(Pada tahun 1965 Munif diundang untuk bernyanyi di Yaman. Ia menyanyikan lagu-lagu Melayu
dan Arab dengan iringan gitar yang ia mainkan sendiri. Sambutan publik
cukuplah. Dan Munif pun diwawancara Televisi Yaman. Ketika pewawancara
menanyakan ia orang mana, dengan tegas Munif berkata bahwa ia orang
Indonesia. Pewawancara menukas, bukankah anda menggunakan nama famili
Bahaswan, mestinya anda orang Hadramaut, Yaman. Munif menandaskan lagi
bahwa dirinya adalah orang Indonesia, masalah nama famili Bahaswan itu
adalah soal biologi. Alangkah gusarnya sang pewawancara. Sejak wawancara
itu Munif diboikot wartawan Yaman).
Peran kaum peranakan Arab cukup signifikan dalam musik Melayu.
Juga di Malaysia. Dua penyanyi Melayu yang tersohor di Malaysia, SM
Salim dan Syarifah Aini berdarah Arab. Meski perlu dicatat pada sekitar
tahun 1956 muncul OM Bukit Siguntang pimpinan anak Pecenongan A. Chalik.
Namun haruslah diakui peran serta peranakan Arab dalam bidang ini.
Mereka juga penggubah syair-syair yang indah. Lagu-lagu ciptaan Munif,
misalnya Cinta Direkayasa, M. Mashabi Rasa Cinta, Hussein Bawafi Budi,
Effendi Khayalan Suci, A. Kadir Keagungan Tuhan, adalah syair lagu
dengan cita rasa yang tinggi. Menurut Munif, penggubah lagu seperti
Hussein Bawafi sangat mendalami karya sastra Amir Hamzah dan Chairil
Anwar.
Bina Ria
Sebuah konkurs bernyanyi lagu-lagu Effendi yang diadakan di Singapura
pada sekitar tahun 1967-1968 dimenangkan oleh seorang pemuda Indonesia
bernama Oma Irama. Sebenarnya ia penyanyi lagu-lagu Barat populer. Bukan
untuk pertama kali ia menghikuti kongkurs. Sebelumnya juga ia mendapat
tempat yang berarti dalam kongkurs lagu Barat populer. Kala itu ia
menyanyikan lagu I who have nothing.
Oma
Irama, kini Raden Haji Oma Irama atau potong letter Rhoma Irama, bukan
lagi sebagai orang yang tak punya apa-apa. Ia berharta berkat musik
dangdutnya. Musik Dangdut adalah derifat Musik Melayu Moderen.
Rhoma Iramalah pelopornya ketika ia muncul dengan gaya musik yang lain
dari yang lain membawakan lagu ciptaannya Bina Ria pada sekitar tahun
1969. Rhoma menciptakan aliran. Kalau musik Melayu Moderen
mengandalkan accordeon sebagai lead instrument, Rhoma menggunakan
electrik gitar. Dalam perkusi ia memasukkan unsur drum yang berperan
menjadikan sebuah lagu menjadi beatles, punya warna irama yang jelas.
Tamborin dipertahankannya, namun marakas tak lagi menampil. Alur musik
melewati jeram-jeram breaks yang banyak. Pada musik Melayu moderen
breaks hanya sekali-sekali saja, dan itu pun sedikit saja lagu yang alur
musiknya memakai break.
Rhoma Irama menjadi "mazhab", ia adalah sebuah tonggak dalam perjalanan musik Melayu. Aliran ini ramai pengikutnya hingga kini. Tak banyak lagi yang "mengamalkan" musik Melayu moderen
pada tahun 1970 kecuali M. Mashabi. Tetapi kelompok musik Mashabi hanya
dapat ruang bermain di tempat yang terlalu bersahaja dengan sound
system bertenaga accu. Dan Mashabi pun pergi ke haribaanNya dalam usia
40-an, di tahun 1970-an, pada saat musik Melayu modern yang ikut
dirintisnya memudar.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar