M. Thahar mengarang lagu Cinta Hampa. Lagu ini mencuat merobek cakrawala musik Melayu
berkat suara yang gurih Hasnah Thahar, isteri M. Thahar. Bawafi muncul
di zaman itu dengan lagunya Khayalan dan Penyair, tetapi lagunya yang
mencuat adalah Seroja.
Lagu-lagu Melayu yang lahir di zaman ini meski pun mengalami up dating dibanding dengan lagu Melayu klasik
yang ditulis oleh penggubah-penggubah N.N. (tak dikenal) seperti lagu
Seringgit Dua Kupang yang kini didangdutkan menjadi Ayam Jago Jenggernya
Merah, tetapi menurut Munif belum mencapai format lagu yang disebut
songform. Struktur sebuah lagu yang disebut songform adalah terdiri atas
32 bar dengan bagian yang diulang (refrein) A1 + A2, klimaks (yang
malah disebut refrein), dan kembali kepada A1 atau A2, atau malah muncul
A3. A3 adalah syair yang bukan pengulangan dari bait-bait sebelum
klimaks.
(Munif yang dikenal sebagai penyanyi yang serba bisa, ia pun mahir
menyanyikan lagu jazz, dan untuk kurun waktu yang lama ia bersama Rudy
Rusadi dan Dudung menjadi vocal-grup kelompok terkenal Los Morenos.
Ketika tamat pendidikan dasar di Al-Irsyad, Batavia, Munif beroleh
beasiswa dari Irak yang ketika itu dipimnpin oleh Raja Faisal).
Said Effendi nyaris meninju Iskandar
Penulis mengatakan kepada Munif bahwa ia adalah penyanyi Melayu
legendaris, Munif mengelak seraya menyebut nama Effendi. Tentu tidak
perlu digelar perdebatan, baiklah didengar argumentasi Munif.
Effendi adalah pelopor lagu Melayu
dengan format songform, lagu ciptaannya itu dibawakan dengan suara
soprano bercengkok. Dan tidak pula ia menempuh karirnya dengan jalan
yang mudah. Kepada Munif, Effendi mengungkap riwayat hidupnya.
S. Effendi dilahirkan dengan nama Said Arrasyidi di Bondowoso sekitar
tahun 1930. Pada sekitar tahun 1952 pemuda Said merantau ke Jakarta dan
melamar di RRI Stodio Jakarta. Namun lelah menunggu lamaran tak kunjung
berjawab. Maka Said mendapat pekerjaan, yang bersifat non seni, di
Kalimantan. Pada suatu hari yang menerima surat dari familinya di
Jakarta bahwa lamarannya bekerja di RRI diterima. Said meluncur ke
Jakarta.
Ia kaget bukan kepalang ketika di latihan di studio RRI dengan iringan
Orkes Studio Djakarta (OSD) pimpinan Josd Clebert ia disodorkan
partitur. Said tidak mengenal not balok. Ia tahu not angka. Sal Salius,
seorang penyanyi lagu seriosa, melihat bakat yang luar biasa yang
dimiliki Said menjadi sukarelawan mengajarkan Said not balok. Dan Said
dalam waktu cepat menguasainya. Ia mulai bernyanyi dan dikenal. Lalu ia
melengkapi namanya menjadi Said Effendi. Nama family Arrasyidi tak
dipakainya. Bahkan kemudian hari ia lebih suka memakai nama S. Effendi
saja. Nama Effendi adalah sangat lazim digunakan dan amat disukai di
kalangan masyarakat Mesir, apalagi setelah di bioskop Alhambra, Sawah
Besar, diputar berbulan-bulan film Mesir Bul Bul Effendi.
Effendi mengarang lagu pertama berjudul Bachtera Laju. Dengan
bersemangat ia memasuki kamar kerja komponis Iskandar, ayah penyanyi
Diah Iskandar yang dijuluki Connie Francis Indonesia. Iskandar sedang
bermain piano menerima naskah Effendi tanpa menoleh. Setelah menatap
naskah itu beberapa menit kemudian naskah itu diremas dan dilemparkan ke
keranjang sampah. Darah menggelegak di kepala Effendi. Ia meninggalkan
ruangan Iskandar dan menuju kantin RRI dengan niat meninju Iskandar.
Sesaat menunggu pikirannya berubah. Malah ia kembali ke ruang Iskandar
yangh telah kosong dan memungut naskahnya yang lecek. Dibelainya naskah
itu dan ia memasuki ruang komponis Ismail Marzuki.
"Waduh, ini lagu bagus benar, biar saya yang membuat arrangementnya, dan dua hari lagi kita latihan", kata Ismail Marzuki.
Dengan girang Effendi meninggalkan kamar Ismail Marzuki. Dan ia berpapasan dengan Iskandar yang wajahnya terlihat bingung.
"Ëffendi, mana naskah kamu tadi, aku cari-cari di keranjang sampah kok enggak ada"
"Memangnya kenapa?" Tanya Effendi.
"Lagu itu bagus, aku mau buat arrangementnya"
"Oh terlambat, Ismail yang mau membuat arrangementnya. Tapi, tadi 'kan kamu buang ke keranjang sampah naskah itu!"
"Aku 'kan cuma bercanda"
Bachtera Laju meroket sampai ke negara jiran. Setelah itu Effendi
menulis puluhan lagu dengan standard songform. Lagunya bagus-bagus
semua, apalagi ia yang menyanyikannya. Pada tahun 1980-an Effendi
meninggal dunia. Namun namanya tetap dikenang. Dan anehnya, terutama di
Malaysia. Seniman Malaysia acapkali mengadakan acara memperingati
Effendi.
"Saya Indonesia"
Munif dan M. Mashabi adalah dua penyanyi tersohor yang nyaris muncul
bersamaan di sekitar tahun 1955. Munif pandai mencipta lagu. Hingga saat
ini ia telah mencipta sebanyak 75 lagu Melayu dan beberapa lagu Arab.
M. Mashabi, atau Mamat. Mashabi adalah nama famili, namanya sendiri
Muhammad. Ia lahir dan dibesarkan di Kebon Kacang, Tanah-abang. Ciptaan
Mashabi tidak banyak, mungkin tidak sampai 20 buah. Tetapi banyak
ciptaannya yang ia nyanyikan sendiri yang tersohor misalnya Ratapan Anak
Tiri yang sempat meledak dan menjadi tema film Ratapan Anak Tiri
garapan Sandy Suwardi. (M. Mashabi meninggal bunuh diri di rumahnya di
Tanah Abang, Jakarta).
Munif pandai berdendang Melayu, tetapi menyanyikan lagu Arab pun jago.
Di samping Ya Mustafa yang mencapai hits, lagu Meester Machmud pun
meledak. Lagu ciptaan Munif Ya Gazibni banyak disukai khalayak penggemar
musik.
(Pada tahun 1965 Munif diundang untuk bernyanyi di Yaman. Ia menyanyikan lagu-lagu Melayu
dan Arab dengan iringan gitar yang ia mainkan sendiri. Sambutan publik
cukuplah. Dan Munif pun diwawancara Televisi Yaman. Ketika pewawancara
menanyakan ia orang mana, dengan tegas Munif berkata bahwa ia orang
Indonesia. Pewawancara menukas, bukankah anda menggunakan nama famili
Bahaswan, mestinya anda orang Hadramaut, Yaman. Munif menandaskan lagi
bahwa dirinya adalah orang Indonesia, masalah nama famili Bahaswan itu
adalah soal biologi. Alangkah gusarnya sang pewawancara. Sejak wawancara
itu Munif diboikot wartawan Yaman).


Tidak ada komentar:
Posting Komentar